• Minggu, 5 Desember 2021

Toleransi dan Kebhinekaan Dibangun Lewat Usaha dan Kerendahan Hati

- Kamis, 25 November 2021 | 15:36 WIB
Para pembucara pada diskusi virtual program internasional peningkatan kapasitas guru madrasah dan pesantren dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Phil Al-Makin MA atas pojok kanan kemeja putih. (Foto : smol.id/dok)
Para pembucara pada diskusi virtual program internasional peningkatan kapasitas guru madrasah dan pesantren dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Phil Al-Makin MA atas pojok kanan kemeja putih. (Foto : smol.id/dok)


SMOL.ID - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka), Prof. Dr. Phil. Al Makin, MA mengatakan, watak toleransi, damai, dan kebhinekaan bukan barang gratis, melainkan harus diusahakan dan membutuhkan kerendahan hati.

''Untuk menjadi orang yang memiliki toleransi, damai, berbhineka, butuh perjuangan, tidak gratis,'' ujar Prof Dr Phil Al Makin MA pada diskusi virtual program internasional peningkatan kapasitas guru madrasah dan pesantren dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), kemarin (25/11).

Kegiatan yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta kerja bareng dengan Institut Leimena bermitra tersebut, diikuti 201 guru dari 25 provinsi termasuk Aceh, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat.

Baca Juga: Referensi Puisi Hari Guru Nasional 2021, Ungkapan Penuh Makna Cocok untuk Tugas Sekolah Anak

Lebih lanjut rektor UIN Suka Yogyakarta, Prof Dr Phil Al Makin MA mengatakan, sebaliknya jika ingin menjadi orang fanatik, radikal, fundamentalis, menolak keragaman, syaratnya cuma 1 tidak perlu belajar dan melupakan semua kebajikan, tutuplah hati rapat-rapat dan turuti ego sendiri.

Prof Al Makin menyatakan, keragaman dan toleransi bukan teori melainkan harus diterapkan secara konkret dalam persahabatan sehari-hari dengan orang yang berbeda.

Menurut guru besar filsafat itu, mempelajari agama dan keyakinan orang lain harus dari orang yang mengimaninya. Sehingga tidak muncul syak wasangka yang kurang baik. Dari sanalah kira belajar akan pentingnya toleransi.

“Saya sudah 7 tahun mempraktikannya (pertemanan lintas agama), alhamdullilah hasilnya luar biasa. Orang-orang yang menjalin pertemanan dengan orang yang imannya berbeda, maka hatinya lebih lapang, lebih rendah hati, lebih ikhlas, dan terbuka,” katanya.

Prof Al Makin menyebut, toleransi bukan hanya menerima umat yang berbeda, tetapi adanya komitmen untuk memahami, menjaga hak-hak, bahkan melindungi mereka saat dalam ancaman. Artinya, toleransi pada dasarnya bersifat resiprokal (saling).

Baca Juga: UIN Suka Beri Gelar Kehormatan Kepada Sri Paus Vatikan & Grand Syekh Al-Azhar

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Baznas Wisuda 32 Sarjana Penerima Beasiswa Produktif

Senin, 29 November 2021 | 15:44 WIB

UIN Walisongo Juara Ilmu Falak se-Indonesia

Minggu, 28 November 2021 | 20:40 WIB

Kreativitas Mahasiswa Jadi Portofolio Masa Depan

Selasa, 23 November 2021 | 19:29 WIB
X