• Selasa, 5 Juli 2022

Komitmen Kesyariahan RSI-Sultan Agung ''Terpuji''

- Minggu, 26 Juli 2020 | 16:13 WIB
prof ahmad rofiq MUI
prof ahmad rofiq MUI

Oleh: Ahmad Rofiq *) SMOL.ID - Rumah Sakit Islam – Sultan Agung (RSI-SA) merupakan RS Islam yang didirikan pada 17/8/1971, dengan motto “Berkhidmat Menyelamatkan Ummat” bermula dari Health Centre. Pada tahun 1975, mendapatkan predikat RS Tipe C, berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No. 1024/Yan.Kes/1.0./75. 31/7/1977 dibangun dua bangsal perawatan kaum dhu’afa. 1/1/1978 mulai disediakan kamar VIP (Very Important Person), 1980 menjadi kepaniteraan klinik mahasiswa FK Unissula, 8/1/1992 berubah menjadi Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Pada 15/5/2003 Gubernur Mardiyanto meresmikan Gedung D RSI SA. 23/5/2006 Gubernur Ali Mufiz meresmikan Pusat Layanan Mata Semarang (Semarang Eye Centre). 21/2/2011 RSI Sultan Agung ditetapkan menjadi RS yang terakreditasi kelas “B” Surat Ketetapan (SK) No HK.03.05/I/513/2011. Pada 25/6/2011, RSI Sultan Agung di tetapkan sebagai RS Pendidikan Utama Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Agung Semarang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : HK.03.05/III/1299/11. 16/7/2014, RSI Sultan Agung resmi dinyatakan “Lulus Tingkat Paripurna” oleh Ketua Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) DR dr Sutoto, M.Kes. 16/12/2015 Launching Multi Center Excellences RSI Sultan Agung. Pada 12/6/2017 RSI-Sultan Agung ditetapkan sebagai pilot project RS Syariah yang pertama oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), 26/11/2017 penetapan dan penyerahan Surat Keputusan DSN-MUI sebagai RS Syariah pertama di Indonesia. Pada 23/6/2018 Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah menyerahkan Sertifikat Halal yang kedua kali. Perjalanan Panjang, usaha maksimal, dan kerja keras, itu membuahkan hasil yang gemilang. Sertifikat sebagai RS Pendidikan, Sertifikat Akreditasi sebagai Rumah Paripurna (Bintang 5), dan sedang dalam proses sertifikasi internasional. Dalam konteks Syariah compliance, Rabu, 1/7/2020 Tim Asesor Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) melakukan audit dan asesmen secara daring, Ustadz Dr. Ir. KH. Nadratuzzaman Hosen, M.Ec, dan Ustadz Dr. KH. Bukhori Muslim, Lc, MA. Acara asesmen daring itu, layaknya halaqah, yang melibatkan Pengurus Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) Habib Hasan Thoha, Dr. Didik, dan pengurus lainnya, Dewan Pengawas Syariah, dan Jajaran Direksi RSI-SA Semarang. Alhamdulillah, 15/7/2020 sudah mendapat kiriman sertifikat dari DSN-MUI, bahwa RSI-Sultan Agung -- yang merupakan RS pertama di Indonesia yang menerapkan prinsip Syariah – dinyatakan telah memenuhi prinsip Syariah (Cetak tebal dan miring). Dasarnya SK. No. 014.106.09/DSN-MUI/VII/2020. Sertifikat tersebut ditandatangani oleh Dr. KH. Hasanuddin, M.Ag. (Wakil Ketua) dan Dr. H. Anwar Abbas, MM. M.Ag (Sekretaris). Ketika saya tanya, adakah peringkat dari hasil akreditasi itu, kayaknya DSN-MUI tidak membuat peringkat, apakah Mumtaz atau Mumtaz jiddan? RSI-Sultan Agung hingga tulisan ini memang masih Tipe B, -- meskipun sebenarnya sudah layak menjadi Tipe A seandainya sudah ada regulasinya. Tentu ini harapannya bisa dibaca oleh para pemangku kepentingan di Kementerian Kesehatan. Karena itu, saya sempat mengusulkan kepada DSN-MUI supaya di Kementerian Kesehatan dibentuk setingkat direktorat yang menangani entitas Rumah Sakit yang dikelola secara Syariah. Usulan saya lainnya, pada para asesor adalah, agar DSN-MUI – bisa juga bekerjasama dengan MUKISI (Majelis Syura Kesehatan Islam Indonesia) untuk mengundang para pengelola industry farmasi yang sudah memproduk farmasi yang halal, diajak agar mereka bisa memproduk lebih banyak lagi obat-obatan dan kebutuhan Kesehatan lainnya, yang sesuai dengan aturan Syariah. Jika perlu di acara IHEX (International Health Expo) yang secara rutin tahunan diselenggarakan, mereka yang berkomitmen memproduksi obat-obatan yang halal, diberi award atau penghargaan. RSI yang menyandang nama besar Sultan Agung – yang bernama Adi Prabu Hanyakrakusuma (1593-1645) – Sultan Ke-3 Kesultanan Mataram yang memerintah pada periode 1613-1645 – dan di bawah kepemimpinannya Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara waktu itu, tentu bertekad seperti spirit Sultan Agung yang menyandang gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir dan Khalifatullah. Untuk melegitimasi kekuasaanya, dia mengirim utusan ke Mekah untuk meminta gelar sultan pada 1641. RSI-SA yang memilih motto “Mencintai Allah, Menyayangi Sesama, Berkhidmat Menyelamatkan Ummat” ini menganut prinsip Al-Muhafadhah ‘ala al-Qadiim al-Shaalih wa al-Akhdzu bi l-Jadiid al-Ashlah artinya “memelihara nilai atau tatanan lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Implementasinya, adalah “RSI-Sultan Agung Mengabdi dan Melayani”. Meskipun mengabdi dan melayani sebenarnya sama artinya, akan tetapi kata mengabdi itu karena ada nilai mencintai dan mengabdi kepada Allah, melalui melayani, menyayangi, dan menyelamatkan umat. Selain ada rumah tahfidh (menghafal Al-Qur’an), ada Masjid (Hamidun Qosim), juga ada 16 layanan unggulan. Sultan Agung Cardiac Center, Eye Center, Lasik Center, Medical Rehabilitation Center, Stroke Center, Oncology Center, Diabetic Center, Hemodialisa, Urology Center, Ent Center, Pain Center, Skin Center, Dental Center, Fertility Center, Integrated Center, dan Geriatric Center. Umat Islam di Indonesia – khususnya Semarang dan jawa Tengah -- patut bersyukur RSI-Sultan Agung sebagai pilihan terbaik untuk mendapatkan kesembuhan kala sakit. Di RS Sultan Agung Anda akan mendapatkan tulisan “wa idzaa maridltu fahuwa yasyfiin” artinya “dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku” (QS. Asy-Syu’ara’ (26):80). Keluarga besar RSI Sultan Agung, menyadari sepenuhnya, bahwa para dokter, perawat, dan lain-lain adalah menjalankan perintah Allah berikhtiar dan bertawakkal menurut aturan-Nya, dan selebihnya Allah yang menyebuhkannya. Allah a’lam bi sh-shawab. Selamat dan Sukses RSI-Sultan Agung Semarang. Ngaliyan, Semarang, 5/Dzul-Hijjah/1441H-26/Juli/2020 M. (aa) *) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

Editor: Arifin

Tags

Terkini

Makna Peringatan Kematian Yesus bagi Umat Manusia

Jumat, 15 April 2022 | 22:22 WIB

10 Komposer dan Karya Musik Klasik yang Terkenal

Rabu, 26 Januari 2022 | 18:09 WIB

Metaverse, Teknologi Baru di Masa Depan

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:47 WIB
X