• Selasa, 27 September 2022

Konsul Jenderal RI di New York: Unwahas Siapkan SDM Diplomat Santri

- Minggu, 25 Juli 2021 | 17:40 WIB
WhatsApp Image 2021-07-25 at 14.42.50
WhatsApp Image 2021-07-25 at 14.42.50

SMOL.ID - SEMARANG – Konsul Jenderal RI Di New York Dr Arifi Saiman MA merasa bangga, Nahdlatul Ulama (NU) yang identik dengan pondok pesantren memberikan perhatian serius terhadap pendirian perguruan tinggi NU, salah satunya Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. ‘’Saya berharap Unwahas mencetak cendekiawan agen perubahan berwawasan global ala ahlussunnah waljamaah. Khusus Program Studi Hubungan Internasional (HI) FISIP Unwahas agar menjadi laboratorium yang menyiapkan sumber daya manusia diplomat santri seperti yang dincontohkan KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah,’’ tegas Arifi Saiman. Dia mengatakan hal itu mewakili umat muslim dunia dalam Tabligh Akbar Kebangsaan Bersama Gus Baha yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis Ke-21 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Sabtu (24/7/21). Menurut Arifi Saiman, sejarah mencatat diplomasi santri dalam menuntut kebebasan bermadzah di Tanah Hijaz yang kemudian dikenal dengan Komite Hijaz di Arab Saudi. ‘’Untuk apa pada saat itu Mbah Wahab dan Mbah Hasyim menuntut kebabasan bermadzhab? Tujuannya untuk mengamalkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin memberikan rahmat bagi semua penghuni alam ray aini,’’ katanya. Karena itu secara khusus dia minta nilai-nilai diplomat santri tersebut terus dikembangkan di Unwahas. Rektor Unwahas Prof Dr H Mudzakir Ali mengatakan, Unwahas didirikin untuk melahirkan SDM unggul mencetak sarjana berbagai ilmu skala nasional dan internasional. ‘’Tabligh Akbar Kebangsaan Bersama Gus Baha ini skala internasional." Karena selain diikuti para dosen dan mahasiswa juga diikuti diikuti 25 Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama  (PCI NU) se-Dunia,  Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dunia,  Diaspora Muslim seperti Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) Inggris, Persatuan Pelajar Muslim se Eropa (PPME) Al Ikhlas Amsterdam Belanda. Masyarakat Muslim Indonesia (MMI) di Frankfurt Jerman, Pengajian Al Firdaus di Irlandia, Keluarga Besar Ta'mir Masjid Baiturrahman KBRI di New Delhi, Nusantara Foundation di New York, Keluarga besar KJRI New York, KBRI di Kabul Afghanistan & KBRI di London UK. Ketua Panitia Dies Natalis yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, keaswajaan dan Diaspora Dr H Nur Cholid MAg MPd menjelaskan, Tabligh Akbar Kebangsaan Bersama Gus Baha ((KH Ahmad Bahauddin Nursalim, Rais Syuriyah PBNU)  merupakan upacara tasyakuran Dies Natalis Ke-21, menyambut HUT Ke-76 Kemerdekaan RI dan Tahun Baru Hijriyyah 1443. ‘’Tabligh Akbar Kebangsaan kami siarkan secara live melalui Unwahas TV & NU Channel,’’ kata Kholid   Muslim Diaspora Dunia Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Irlandia dan IMO Dr Desra Percaya merasa bangga calon-calon pemimpin dunia muslim diaspora di berbagai belahan dunia bergabung dengan Universitas Wahid Hasyim. ‘’Yang lebih membahagiakan lagi adalah hadirnya Gus Baha menyampaikan tausiah,’’ kata Desra yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam tausiahnya mengingatkan, kewajiban kampus perguruan tinggi terus melakukan kajian, penelitian dan mempelajari ilmu Pendidikan. ‘’Kalau pinter itu wajib mengajar, meminterkan orang, memandaikan orang lain agar menjadi ngerti atau tahu tentang sesuatu,’’ kata Gus Baha. Sementara itu Ketua Baznas RI yang juga Ketua Yayasan Wahid Hasyim Semarang Prof Dr H Noor Achmad MA mengatakan, konsep mabadi' khaira ummah ats-Tsalatsah yang dirumuskan oleh ulama NU tahun 1938 bertujuan memberi rambu-rambu dalam melakukan perdagangan internasional. ‘’Rambu-rambu itu terdiri Ashidqu (kejujuran), alwafa’ bil ahdi (menepati janji) dan ta'awun (tolong-menolong). Sejak tahun 1992 berdasar Munas Lampung ditambah dua prinsip yaitu al-adalah (keadilan) dan ( konsisten) sehingga menjadi lima dasar mabadi’ khaira ummah al-khamsah. Ini menunjukkan bahwa diplomasi NU dengan ajaran Ahlu sunnah wal jamaah akan terus hidup sepanjang masa,’’ kata Noor Achmad. Menurutnya, prinsip- prinsip ajaran Ahlussunnah an-Nahdliyah bisa dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan perkembangan sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Kemudian di bidang kehidupan sosial politik dan  budaya ulama- ulama NU merumuskan dasar pokok ajaran yaitu tawasut (moderat), (proporsional), i'tidal (berkeadilan) dan tasamuh (toleran). ‘’Dengan  manhaj (metoda) dan maddah (materi) yang demikian ajaran NU sangat mungkin bisa diterapkan di semua negara. Maka NU bisa membendung ajaran yang mengandung  ekstremisme (tafrith) dan liberalisme (ifrath). Oleh karena itu dibutuhkan pakar- pakar oksidentalisme (kajian tentang Barat) yang mengkaji betul tentang kepercayaa, agama, budaya, politik negara-negara barat dan  orang barat sehingga ajaran Ahlusunnah wal jamaah an-Nahdliyah  yang bisa mulai likulli zamanin wa makanin (sejalan dengan perkembangan situasi dan kondisi) dapat diterapkan dengan tepat,’’ tegasnya. (aa/smol)

Editor: Arifin

Terkini

Pondasi Anti Korupsi Petugas Pemasyarakatan

Jumat, 23 September 2022 | 17:25 WIB

Meningkatkan Integritas dan Etika Aparatur Sipil Negara

Jumat, 23 September 2022 | 16:20 WIB

Budaya Korupsi Lapas Merusak Generasi Baru

Jumat, 23 September 2022 | 06:44 WIB

Menyemai Perdamaian Wujudkan Kerukunan

Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:21 WIB

Makna Peringatan Kematian Yesus bagi Umat Manusia

Jumat, 15 April 2022 | 22:22 WIB
X