• Kamis, 27 Januari 2022

Hati-hati, Ancaman Teror dan Radikalisme pada Platform Digital

- Sabtu, 25 September 2021 | 08:08 WIB

Oleh Ahmad Rofiq[1]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah 24-25 September 2021 menggelar Musyawarah kerja Daerah (Mukerda) 2021 di Hotel Pandanaran Semarang, guna menjabarkan hasil Musyawarah Daerah (Musda) April 2021 yang lalu, dan Menyusun program kerja tahunan, menjawab berbagai tantangan dan melayani umat.

Karena pandemi Covid-19 masih belum tuntas, dan bahkan cenderung ada fenomena kluster baru dari uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) SD/MI, SMP/MTs, dan MA/SMA/SMK di seluruh Indonesia, maka Mukerda diselenggarakan dengan blended model, dengan luring/offline dan daring/online.

Tema yang diambil adalah “Mengokohkan Peran MUI sebagai Khadimul Ummah pada Era Digital untuk Jawa Tengah yang Tangguh dan Sejahtera”. Keberanian MUI mengambil tema yang sangat strategis tersebut, karena komitmen dan mengokohkan peran MUI, menjadi pelayan umat (khadimul ummah) terutama diera digitalisasi demi terwujudnya masyarakat Jawa Tengah yang tangguh dan sejahtera.

MUI sebagai ormas keagamaan yang tidak memiliki massa, seperti halnya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, program kerjanya memang fokus pada kegiatan kepeloporan, rintisan, dan pada dataran eksekusi kegiatan, bisa dikerjasamakan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang “dibekali” pajak oleh rakyat dan penghasilan lainnya yang sah, atau juga dengan Ormas Keagamaan NU, Muhammadiyah, dan organisasi kampus atau profesi lainnya.

Salah satu isu yang muncul di era digitalisasi adalah, banyaknya situs-situs yang kontennya cenderung mengajak atau diduga mempengaruhi faham radikal, yang mengarah pada gejala tindakan teror. Terlepas ada kontroversi soal terminology radikal ini, fakta telah membuktikan adanya tindakan-tindakan teror yang menghadirkan kecemasan, bahkan banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban kekejaman dan kebiadaban mereka.

Jawa Tengah yang warga Muslimnya 96,14% tentu yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang terbesar untuk dapat melindungi warga lainnya di Jawa Tengah ini. Yakni, Kristen 1,98%, Katholik 1,46%, Hindu 0,21%, Budha 0,19%, dan Konghuchu 0.02%.  Sudah barang tentu ini, telah lama menjadi komitmen MUI untuk menjaga Rumah Besar Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.

Komitmen dan suasana persaudaraan sudah sedemikian kuat, sejalan dengan prinsip persaudaraan ukhuwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Menurut Kabiro Kesra Prov Jateng, Imam Masykur, mewakili Gubernur Jawa Tengah, masih ada tantangan keberagaman, berupa terorisme (ada kelompok yang memaksakan kehendak menganti ideologi/dasar negara), aksi massa yang tidak jarang berdampak merusak dan memudarnya nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai dampak globalisasi, separatisme, dan intoleransi (yang masih bisa terjadi internal umat maupun antarumat beragama).

MUI “Banjiri” Konten Moderasi Islam

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

10 Komposer dan Karya Musik Klasik yang Terkenal

Rabu, 26 Januari 2022 | 18:09 WIB

Metaverse, Teknologi Baru di Masa Depan

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:47 WIB

Kenangan Nurul ditinggal Maura Putri Slungnya

Selasa, 25 Januari 2022 | 13:53 WIB

Ibu Kota Nusantara yang Tak Dirindukan

Jumat, 21 Januari 2022 | 09:04 WIB

Sehari Bersama Artis Legendaris

Jumat, 14 Januari 2022 | 09:26 WIB

Teror Varian Omicron dan Keajaiban Indonesia

Selasa, 4 Januari 2022 | 18:07 WIB
X