• Sabtu, 10 Desember 2022

Literasi Pelestarian Lingkungan Hidup, Sudahkah Efektif?

- Selasa, 21 Juni 2022 | 13:26 WIB
Muhammad Bayu Widagdo.
Muhammad Bayu Widagdo.

Oleh : Muhammad Bayu Widagdo

Seringkali kita salah menyadari dalam memahami dalam persoalan lingkungan hidup. Baru merasakan pentingnya menjaga lingkungan hidup jika sudah terjadi bencana alam. Seolah bencana alam adalah sistem peringatan dini dari alam untuk manusia. Padahal tidak. Terjadinya bencana alam merupakan dampak tak terelakkan dari keabaian atau ketidakpedulian kita terhadap ketimpangan alam yang secara terus-menerus terjadi di sekitar kita. Sehingga lambat laun alam mengambil alih tindakan untuk kembali menyeimbangkan kondisi alam, apapun yang terjadi. Bahkan kita manusia pun tak terelakkan menjadi bagian yang harus ditata ulang, diseimbangkan oleh alam. Padahal seringkali alam sudah memberi isyarat dengan bahasanya yang seringkali kita tidak mau peduli untuk memahaminya. Alam tidak menunggu waktu untuk manusia paham atau tidak. Asal waktunya tepat dan harus bertindak, maka ia akan bertindak sesuai kebutuhan.

Bencana menurut siapa?

Setelah alam mengambil alih tindakan tersebut tentu saja tatanan yang berlaku adalah tatanan alamiah yang barangkali tidak tampak estetis dalam logika kita manusia. Itulah estetika alam yang kita menyebutnya sebagai bencana. Bencana menimbulkan banyak malapetaka menurut kita sebagai manusia. Namun berbeda dengan alam, konsep keseimbangan yang berlaku adalah apa yang seharusnya tertata di sana maka harus dikembalikan pada tempatnya. Maka manusia yang sekian lama secara berangsur-angsur mendiami dan memadati tempat-tempat resapan air misalnya, harus rela mengungsi karena banjir. Air telah mengambil alih kembali tempat mereka. Namun kita salah memahaminya, kita menyebut banjir telah menyebabkan korban jiwa dan harta benda.

Bagi air yang secara alamiah mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, maka sudah selayaknya ia mendiami lokasi-lokasi dataran rendah resapan air. Adalah hal wajar jika pada musim penghujan ia menempati tempat asalnya. Justru manusia yang seharusnya menyadari bahwa mereka tidak layak menempatinya sebagai lokasi hunian. Ketika air dalam jumlah besar kemudian memasuki hunian mereka, maka mereka menyebutnya sebagai banjir dan menggolongkannya sebagai bencana alam. Seolah-olah mereka dirugikan oleh perilaku alam yang menghukum mereka tanpa melakukan kesalahan. Begitu pula yang terjadi pada saat bencana kebakaran, tanah longsor, gunung meletus, bahkan penyakit-penyakit yang ditimbulkan dari keabaian kita mengelola keseimbangan alam.

Pendekatan komunikasi penyebaran informasi kebencanaan

Di sisi lain kita seringkali mendapati pola komunikasi penyebaran informasi kebencanaan dengan pendekatan penanganan bencana, bukan pencegahan atau penanggulangan bencana. Pola komunikasi dengan pendekatan penanganan bencana cenderung pasif menunggu kejadian bencana baru bertindak. Tentu saja pendekatan seperti ini sangat tidak efektif dan berpotensi banyak korban. Korban-korban yang timbul akibat bencana, secara berkala hanya menjadi data statistik yang akan semakin besar ketika salah dalam menangani atau bahkan terlambat dalam mengatasi.

Pendekatan ini dikatakan tidak efektif karena secara prinsip seharusnya upaya penanganan berorientasi pada korban-korban jiwa atau harta benda agar dapat lebih diminimalisir atau bahkan ditiadakan. Selain itu pendekatan ini dikatakan kurang efektif karena penanganan bencana dianggap pekerjaan wajib bagi sejumlah stakeholder yang menangani itu. Sebut saja misalnya BNPB yang dibantu pemadam kebakaran, kepolisian, juga TNI. Masyarakat cenderung tidak dilibatkan secara aktif dalam penanganan bencana tersebut. Jika pun mereka terlibat seringkali secara serta-merta bertindak. Kemudian masyarakat menjadi abai dan kurang waspada. Sementara itu tentu saja jumlah personil lembaga atau organisasi yang mereka miliki dalam jumlah yang terbatas.

Di sisi lain, ada pendekatan komunikasi yang lebih efektif, yaitu pendekatan komunikasi yang berorientasi pada pencegahan resiko/dampak bencana. Pendekatan komunikasi pencegahan bencana lebih mengutamakan tindakan preventif, kuratif, dan inisiatif sebelum terjadi bencana atau agar bencana tidak menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda. Tindakan preventif adalah upaya pencegahan sebagaimana mungkin agar bencana tidak terjadi, namun betapapun betul-betul terjadi dapat dikurangi dampak dan resikonya serta masih dalam situasi yang dapat dikendalikan atau tertangani secara memadai.

Tindakan kuratif lebih sistematis dalam merancang optimalisasi pengurangan dampak bencana yang umumnya muncul setelah bencana dan jika kita abai dalam menangani bisa berakibat meningkatnya resiko korban jiwa pasca bencana. Tindakan inisiatif diambil oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan paham untuk menangani dengan cara penanganan yang tepat dan baik serta berupaya mengajak keterlibatan aktif baik stakeholder terkait maupun warga masyarakat utamanya yang berpotensi menjadi korban bencana untuk ambil bagian dalam pelestarian lingkungan hidup.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Artikel Terkait

Terkini

Pondasi Anti Korupsi Petugas Pemasyarakatan

Jumat, 23 September 2022 | 17:25 WIB

Meningkatkan Integritas dan Etika Aparatur Sipil Negara

Jumat, 23 September 2022 | 16:20 WIB

Budaya Korupsi Lapas Merusak Generasi Baru

Jumat, 23 September 2022 | 06:44 WIB

Menyemai Perdamaian Wujudkan Kerukunan

Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:21 WIB

Makna Peringatan Kematian Yesus bagi Umat Manusia

Jumat, 15 April 2022 | 22:22 WIB
X