• Sabtu, 22 Januari 2022

Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 18:55 WIB
Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional ( (Pixabay))
Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional ( (Pixabay))

Berikutnya kita kenal Ki Hajar Dewantara, Suwardi Suryadiningrat. Ternyata beliau adalah santri yang hebat, cerdas, dan nyantri di pesantren kyai Sulaiman Zainuddin di daerah Prambanan. Sebagai santri yang betul mendidik dan membentuk dirinya ‘pribadi yang taat’ bukan Taat Pribadi.

Untuk itu, Suwardi Suryaningrat ini mampu memadukan ajaran-ajaran filosofis yang diramu dengan kisi-kisi sufistik sehingga menjadi sebuah idiom di maqolah yang sangat berharga : panduan bagi orang pemimpin, panduan bagi orang pendukungdan panduan bagi pengikut. “ing ngarsa sung tulada, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.

Baca Juga: Teks Pidato Hari Santri Nasional 2021 Terbaik, Singkat, Menghibur dan Bermakna Dalam, Cocok Dibaca oleh Santri

Tidak mungkin, orang tidak mempunyai ilmu yang mendalam. Dengan renungan sufistik yang hebat mampu mengeluarkan kata bijak seperti itu. Sekali lagi, negeri ini didirikan oleh ulama-ulama yang handal.

Yang lebih menakjubkan adalah keturunan Belanda yang membelot. Dia bernama Douwes Dekker, nama Jawa-nya Danudirjo Setiabudi. Leluhurnya adalah seorang Belanda, keluarga Belanda yang elit. Karena kecerdasaannya, dia ditugasi oleh Belanda untuk menyusup dikalangan santri, agar mempengaruhi kaum santri untuk bisa kompromi dengan Belanda.

Ternyata Douwes Dekker setelah mencoba masuk dikalangan pesantren dan mengamati bagaimana prilaku kyai yang sederhana, memberi, santun, dan menyapa rakyat kecil. Sangat berbeda keadaannya, dengan situasi dirumahnya sendiri yang serba roti, burger, babi, pesta, dan lain-lain. Apa yang terjadi, bergejolak di hati Douwes Dekker adalah memilih berpihak kepada kaum santri. Sehingga orang yang kemlondo (bersikap seperti Belanda) begitu melihat santri, berubah menjadi santri dan memuji-muji kebaikan eksistensi santri dan kyai.

Baca Juga: Teks Sambutan Upacara Hari Santri Nasional 2021 Versi Kementrian Agama, Tentang Peran Santri Melawan Pandemi

Statemennya yang populer ‘andai tidak ada kyai, tidak ada pesantren maka Indonesia ini pasti akan habis, tidak mempunyai jadi diri lagi dihabisi oleh Belanda’. Karena ada kyai, santri, dan pesantren, maka negeri ini menjadi negeri yang terhormat.

Kemerdekaan. Presiden Soekarno dalam membacakan proklamasi tidak mau sendirian, ditunjukklah pendampingnya Mohammad Hatta. Siapa dia, dia adalah Mohammad Hatta bin Asy-Syekh Abdul Jamil.

Orang tua Mohammad Hatta ini benar-benar adalah mursyid tariqoh naqsabandiyyah kholidiyyah. Apapun bentuknya, dalam proklamasi tetap diiringi dengan doa. Di back-up dengan ketuhanan. Walaupun selanjutnya Bung Hatta dikenal hanya sebagai Bapak Koperasi.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X