• Sabtu, 22 Januari 2022

Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 18:55 WIB
Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional ( (Pixabay))
Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional ( (Pixabay))

Setelah kemerdekaan perlu ada penyemangatan dokumen melalui lagu-lagu. Muncullah lagu Syukur, berterima kasih atas anugrah Allah karena kemerdekaan telah dicapai. Bahasa ‘syukur’ itu pasti bahasa santri.

Baca Juga: Khutbah Jumat Spesial Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tentang Meningkatkan Cinta kepada Rasulullah SAW

Dan penciptanya hanya ditulis M. Husein. Nama aslinya Muhammad Husein Al-Muthohhar. Itu artinya dia mempunyai nasab, terjalin dengan Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad saw.

Lagi-lagi, tetesan aliran darah Rasulullah, juga ikut andil di dalam kemerdekaan negeri ini. Saat kemerdekaan, M. Husein ini ditunjuk sebagai duta besar di Vatikan. Membaur dengan orang Kristen disana, dia tidak hilang keimanannya justru mendirikan masjid disana dan sekarang menjadi Pusat Islamic Center.

Turun di tanah ini (Tebuireng), dialah Muhammad Hasyim bin Asy’ari, Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dengan perjuangan yang hebat, ditahan dan lain-lain. Mengeluarkan resolusi jihad yang dipatuhi.

Tidak sekedar itu, puteranya yang pejuang Alm. M. Yusuf Hasyim, tiba-tiba mendapat sebutan pak Ud. Karena saat gerilya di dekat pabrik gula itu, ditembak oleh Belanda terkena dahinya. Sehingga beliau spontan mengatakan ‘Ud’, dan tidak apa-apa. Sejak itulah dipanggil pak Ud, karena Ud-Ud menghindari berondongan peluru Belanda.

 Baca Juga: 15 Gombalan Ala Santri untuk Meriahkan Hari Santri Nasional 2021, Kocak dan Bikin Baper, Cocok Jadi Caption

Semuanya kita ucapkan, allahumma ighfirlahum wa irhamhum wa afihim wa’fu anhum. Itu artinya, kita kaum santri ini punya amanat yang hebat, menegakkan keislaman dengan di berbagai sektor.

Para kyai berjuang membela negara ini untuk berkuasa di negeri sendiri. Mengangkat senjata melawan Belanda, bukan murni karena kemerdekaan. Tapi lebih karena untuk meninggikan agama Allah li i’laai kalimatillah. Karena itu ada istilah perang sabil dan lain-lain.

Dengan demikian, organisasi seperti organisasi islam yang lain. Nahdlatul Ulama yang didirikan disini, penuh dengan kyai-kyai pejuang. Kyai-kyai yang non-kompromi dengan non-muslim.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X