• Sabtu, 22 Januari 2022

Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 18:55 WIB
Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional ( (Pixabay))
Khutbah Jumat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021, Tema: Memetik Hikmah di Balik Hari Santri Nasional ( (Pixabay))

Kyai yang betul-betul steril dan agamanya itu betul-betul murni. Tidak mau syubhat dan lain-lain sampai Kyai Hasyim sendiri pernah melarang santrinya memakai celana, karena takut kemlondo. Takut tertular, bukan karena haram.

Baca Juga: 40 Twibbon Terbaik Hari Santri Nasional 2021, Desain Terbaru dan Unik, Cocok Diunggah di Media Sosial

Untuk itu sewajarnya menjadi santri, khususnya kalangan Nahdliyin harusnya mempunyai komitmen yang hebat, keislamannya itu dipakai terus-menerus.

Di masjid, dia beriman. Di pasar, dia beriman. Di jalan raya, dia beriman. Di gedung DPR, dia beriman. Di glanggang perpolitikan keimanannya dipakai.

Bukan sebagai santri yang keimanannya dipakai di masjid, ketika di pilkada dan berpolitik keimanannya dilepas. Persoalan menjadi sensitif, dan bisa dipertanyakan pada diri kita sendiri.

Apa peran kita di dalam menyumbang peran keislaman di negeri ini, berperan apa?. Saya tidak berposisi sebagai hakim pemutus hukum, jika ada orang muslim memilih pemimpin sesama muslim pasti dibenarkan oleh agama, sekaligus dibenarkan oleh asas demokrasi.

Jika ada pemimpin yang non-musim, lalu kita orang muslim tidak memilih pemimpin yang non-muslim. Itu hak, dibenarkan oleh agama dan dibenarkan oleh demokrasi. Apanya yang dilanggar?. Dari segi ihtiyat, muslim yang memilih pemimpin muslim itu lebih safety, keimanannya lebih terjaga.

Baca Juga: 10 Pantun Lucu Ucapan Hari Santri Nasional 2021, Penuh Makna dan Cocok Dijadikan Caption di Media Sosial

Tidak pada tempatnya kita berdebat disini, tapi mana tolong difikir. Pertama, sumbangan kita terhadap Islam itu apa. Masak mengaku muslim, beriman, seharusnya toleransi, sumbangan diberikan kepada sesama muslim. Itu baru namanya muslim akhul muslim.

Kok malah obrak-obrak muslim disuruh milih pemimpin non-muslim. Itu namanya orang Islam yang tidak islami. Yang berupaya untuk merenggangkan keislaman temannya sendiri dari pribadi muslim itu. Resikonya jelas besar.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X