• Minggu, 17 Oktober 2021

Serie 1: Lalu-lalang Broadway

- Kamis, 23 September 2021 | 13:04 WIB

HUJAN kecil-kecil bulan Desember, merapatkan hitungan waktu kian ke belakang. Sepanjang Times Square jalanan basah. Lampu-lampu reklame sesekali memerah, sesekali menguning. Di detik yang lain warnanya pun berubah-ubah. Orang-orang, atau siapapun yang melintasinya, pasti tak ingin memenjarakan matanya untuk tidak memandang.

Siapa pun, mungkin saat ini sedang gelisah.

Di sebuah persimpangan jalan, terlihat taksi membelok dengan kecepatan tinggi. Tidak jauh dari sana, sepasang suami istri mengumpat terkena cipratan air. Taksi cuek itu tetap berlalu ditelan tikungan berikutnya. Habis perkara.

Semua saling bergegas, seolah tak akan terjadi lagi hari berikutnya. Tanggal 31 Desember, entah kenapa, senantiasa mengulang kegelisahan yang itu-itu juga. Hari paling kiamat bagi para penggelisah. Saat paling menakutkan bagi mereka yang sedang berkasih-kasihan. Siapa tahu Tuhan hanya menyisakan hari terakhirnya pada dini hari nanti. Selebihnya, tak pernah terjadi satu Januari.

Tampak kesibukan menjelang akhir tahun. Di mana-mana terompet kertas mulai terlihat. Topi-topi kecil dengan warna-warni perniknya yang cantik. Gerobak es krim, t-shirt bertuliskan Big Apple dan Yankee dijaja di lorong atau sudut kota yang kusam. Yankee adalah simbol kebanggaan Amerika. Meski kebanggaan itu lebih tepat untuk orang-orang New England, para imigran Inggris yang beranak-pinak di Amerika. Apa boleh buat, hukum industri telanjur mengubah nation spirit menjadi komoditas. Kaos-kaos oblong yang sengaja branding tentang negeri itu tidak satu pun buatan pabrik Amerika. Rata-rata made in Hong Kong, Taiwan atau China.

Times Square menjadi tempat lalu-lalang para manusia resah.

Di sinilah titik surga perayaan Old and New Year bagi seluruh warga dunia. Seolah semua hal-ihwal tentang pergantian tahun berpusat di tempat tersebut. Tidak heran kalau kawasan itu dijuluki The Crossroad of the World.

Hari ini The New York Times memuat judul editorial tanpa kejutan: Accountability Begins at Home. Seakan mengejek betapa bangganya menyaksikan pemerintah Amerika mampu mengatur kehidupan bangsa Irak. Sebuah akhir yang pilu, karena dapur manajemen Amrik sendiri ternyata amburadul. Di penghujung Desember yang cuma seberapa, harian terkemuka itu mengakhiri mata pikirannya dengan dua kalimat pendek, “Sungguh bahagia kita bisa menata segala penyelewengan Irak atas negerinya. Now, about the abuse of Iraqis by Americans ...” Betapa pedih-lukanya.

Tapi kota ini mampu menghibur kegelisahan jutaan orang dengan caranya yang sexy. Gedung-gedung bioskop berjejal penonton, teater-teater Broadway terus berpentas. Walk the Line, sebuah film dengan bintang Reese Witherspoon dan Robert Patrick hari ini mengancam posisi film Harry Potter  sekuel terbaru. Tak ada yang sedih di antara wajah-wajah itu. Semua tersenyum, sorot mata pun berbinar. Amerika memang tak pernah bersedih.

Selepas senja, orang-orang sudah antre tiket di Broadway. Dua jam kemudian, gedung-gedung itu memuntahkan penonton. Saling menghambur keluar dari “lubang pintu” yang berbeda. Menyebar ke kiri dan ke kanan mencari makanan.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Serie 11: Permainan Iblis

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Serie 10: Permainan Iblis

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:59 WIB

Serie 9: Teror di St Moritz Hotel

Senin, 11 Oktober 2021 | 08:49 WIB

Serie 8 : 'When I Fall in Love'

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 05:48 WIB

Serie 7: Puisi Jan Jacob Sleaurhoff

Kamis, 7 Oktober 2021 | 05:12 WIB

Serie 6: 14 Jam ke Frankfurt

Senin, 4 Oktober 2021 | 07:30 WIB

Serie 5: Jangan Lengah, Fla

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 05:30 WIB

Serie 4: Terbang ke New York

Kamis, 30 September 2021 | 08:11 WIB

Serie 3: Georgia On My Mind

Senin, 27 September 2021 | 14:53 WIB

Serie 2: Peti Mati Mama

Sabtu, 25 September 2021 | 06:00 WIB

Serie 1: Lalu-lalang Broadway

Kamis, 23 September 2021 | 13:04 WIB

New York Temptation, Sebuah Novelette Handry TM

Kamis, 23 September 2021 | 00:22 WIB
X