• Rabu, 1 Desember 2021

Menag Bacakan Puisi Gus Mus Dalam Pidato Penutupan Forum Antaragama G20

- Kamis, 16 September 2021 | 11:45 WIB
Gus Yaqut.
Gus Yaqut.


SMOL.ID – Dalam pidato secara virtual upacara penutupan Forum Antaragama G20 di Bologna, Italia, Selasa 14 September 2021 malam waktu setempat, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas membacakan puisi karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Agama
adalah kereta kencana
yang disediakan Tuhan
untuk kendaraan kalian
berangkat menuju hadiratNya
Jangan terpukau keindahannya saja
Apalagi sampai
dengan saudara-saudara sendiri bertikai
berebut tempat paling depan
Kereta kencana
cukup luas untuk semua hamba
yang rindu Tuhan

Puisi karya Mustasyar PBNU yang juga paman Menag itu langsung mendapat tepuk tangan meriah dari peserta Forum Antaragama G20.

Baca Juga: Mahasiswa KKN STAI Al-Anwar Bantu Sertifikasi Tanah di Gowak

Di hadapan Presiden dan Perdana Menteri Italia, sejumlah menteri, pemimpin agama-agama serta intelektual dari berbagai negara, Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan pidato secara virtual.

Pada kesempatan itu, Gus Yaqut dalam pidato berbahasa Inggris memberikan isyarat-isyarat tentang arah lebih lanjut bagi ikhtiar-ikhtiar perdamaian global melalui Forum Antaragama G20. Untuk diketahui, pada 2022 mendatang giliran Indonesia akan menjadi tuan rumah.
 
Menag Yaqut mengajak para tokoh yang hadir untuk pertama-tama mengakui sejarah yang sulit dan didominasi oleh konflik selama berabad-abad dalam pergaulan antarkelompok agama dan antarbangsa.
 
“Baru sesudah Perang Dunia II masyarakat internasional berupaya membangun konsensus untuk mewujudkan tata dunia yang lebih aman dan stabil, dengan lahirnya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dibentuknya Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Menag, Rabu 15 September 2021.

Baca Juga: Semua Bandara Ditututp bagi WNA Kecuali Soetta dan Sam Ratulangi
 
Namun, menurut Gus Yaqut, tata dunia baru itu hingga kini masih rapuh, sedangkan pola pikir yang diwarnai dorongan permusuhan dan konflik masih membayang-bayangi. Untuk itu, Menag menyerukan kepada para pemimpin dunia, baik pemimpin politik maupun pemimpin agama dan intelektual, untuk menyempurnakan dan mengukuhkan konstruksi tata dunia pasca Perang Dunia II dengan membangun konsensus perdamaian atas dasar nilai-nilai peradaban bersama.***

Editor: Salman Al Farisi

Artikel Terkait

Terkini

Santri Harus Kuasai IPTEK Dan Cinta Tanah Air

Selasa, 30 November 2021 | 11:23 WIB
X