• Kamis, 20 Januari 2022

Bareskrim Polri - Polda DIY Musnah 14.436.000 Butir Obat Keras Ilegal dan Ribuan Kg Bahan Baku

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 14:08 WIB
Bareskrim Polri - Polda DIY Musnah 14.436.000 Butir Obat Keras Ilegal dan Ribuan Kg Bahan Baku (Polda DIY)
Bareskrim Polri - Polda DIY Musnah 14.436.000 Butir Obat Keras Ilegal dan Ribuan Kg Bahan Baku (Polda DIY)

SMOL.ID - Polda DIY bersama Direktorat Tindak Pidana (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri hari ini memusnahkan sebanyak 14.436.000 butir obat keras ilegal hasil dari penggerebekan 21 September 2021 lalu di dua lokasi Bantul dan Sleman.

Adapun obat - obatan keras ilegal yang dimusnahkan  itu antara lain Hexymer, Trihek, DMP. Double, Irgabhn.

Selain jutaan butir obat keras ilegal siap edar, ratusan kilogram bahan baku untuk membuat obat keras tersebut ikut dimusnahkan.

Baca Juga: BPOM Terima Laporan Negara Sahabat Soal Peredaran Obat Tradisional Berbahaya dari Indonesia

Bahan baku tersebut di antaranya adalah:

-Polivill Pirolidon (PVP) sebanyak 1 drum atau 50 kilogram (kg),
-Phenilbutason sebanyak 20 drum atau 500 kg
-Pharmacoat sebanyak dua drum atau 100 kg
-Dextrometropam dua drum atau 50 Kg
-Plasdon Povidone tiga drum atau 150 kg
-Dextrometropam satu drum atau 50 kg
-Laktoze 200 kardus atau 5.000 Kg
-Magnesium stearate dua karung atau 30 kg
-Sodium Starch glycolate (SSG) 23 karung atau 460 Kg
-Guangxi talc Powder empat karung atau 100 kg
-Polyoxyethlane glycol dua karung atau 50 Kg
-Bovidone K30 Usp43/ep10 16 drum 400 kg
-Polivill pirolidon (PVP) 37 drum atau 925 kg
-Micro crystalline cellulose (MCC) 11 karung

Obat-obatan dan bahan baku itu dimusnahkan menggunakan mesin penghancur dengan suhu tinggi.

Baca Juga: BPOM Musnahkan Obat Tradisional Berbahaya Senilai Rp21,5 M


Direktur Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri Brigjen Pol Krisno Siregar menjelaskan kronologi pengungkapan kasus tersebut.

Dia mengatakan, 1 September 2021 lalu, pihaknya berhasil mengamankan dua pria inisial AZA dan ADS terkait peredaran obat keras ilegal.

"Kemudian dilakukan penggeledahan ditemukan pabrik pembuatan dan penyimpanan obat keras atau pil koplo berupa Hexymer, Trihek, DMP, Double, Irgabhn dan Preskurso dalam kemasan kardus," jelasnya, di Mapolda DIY, Jumat, 15 Oktober 2021.

Penemuan itu selanjutnya dikembangkan, dan 22 September sekitar 00.05 WIB dilakukan penangkapan,  terhadap LSK dan istri E, juga anaknya M.

Polisi kemudian menggeledah gudang pabrik di Jalan Siliwangi Ring Road Barat Pelem Gurih, Banyuraden, Gamping, Sleman. Dari sana polisi juga menangkap JSR, di rumahnya Jalan Kabupaten, Biru, Trihanggo, Sleman.

"Dari pemeriksaan terhadap para tersangka, mereka memproduksi obat dengan menggunakan PBF atau resmi," jelasnya.

Baca Juga: Polisi Gerebek Toko Kelontong Jual Ribuan Butir Obat Keras dan Terlarang

Namun obat-obat yang diproduksi merupakan obat-obatan yang sudah dicabut izin edarnya oleh BPOM karena tergolong keras. Sehingga obat-obatan beredar secara ilegal.

Obat-obatan tersebut diedarkan ke berbagai daerah di Indonesia dengan menggunakan jasa pengiriman barang.

Obat-obatan tersebut menurutnya, sangat berbahya. Jika dikonsumsi terus- menerut menimbulkan dampak depresi, sulit konsentrasi, mudah marah, gangguaan koorinasi seperti kesulitan berjalan atau berbicara , kejang-kejang dan cemas serta halusinasi.

Menurut Krisno, obat keras ilegal itu diproduksi dengan tujuh mesin. Perhari mampu menghasilan 14.000.000 butril pil. sehingga estimasi perbulan mencapai 420.000.000 butir.

Baca Juga: Buntut Gudang Obat Ilegal, Bantul Tertibkan Izin Pergudangan


Para tersangka telah ditahan, selanjutnya akan diproses secara hukum. Adapun pasal yang diterapkan, antara lain pasal 60 UU RI No 11 2020 tentang Cipta Kerja Perubahan atas Pasal 197 UU NO 36 2009 tentang kesehatan.

Setiap orang yang dengan senagaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasa dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud pasal 106 ayat (1) dipidana dengan penjara palin glama 15 tahun dan denda Rp1.500.000.000.

Selain itu, sub pasal 196 UU RI No 36 2009 tentang kesehatan. Lebih subsiden pasal 198 UU RI No. 36 2009 tentang kesehatan. Pasal 60 UU RI No 5 1997 tentang
Pskiotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp 200.000.000. ***

 

 

Halaman:
1
2
3

Editor: Lina Setiawati

Tags

Terkini

Berikut 184 Pemenang Baznas Award 2022

Rabu, 19 Januari 2022 | 20:02 WIB

Jateng Borong Baznas Award 2022

Rabu, 19 Januari 2022 | 19:21 WIB
X