• Senin, 24 Januari 2022

Begawan Perkebunan Indonesia Soedjai Kartasasmita Menjelang 95 Tahun, Tak Lelah Berkarya untuk Perkebunan

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 13:56 WIB

"Sebagai tanda apresiasi, ISSCT mengangkat saya sebagai Anggota Kehormatan Seumur Hidup organisasi gula internasional itu", tuturnya.

Kini, selain berbagai pertemuan tentang perkebunan, sumbangan yang sangat berarti bagi dunia perkebunan adalah pendirian Museum Perkebunan Indonesia di Medan. Kemudian juga penerbitan buku biografinya "Jejak Planter Indonesia, Mencapai Arena Global" .

Bagi Sodjai, inilah caranya menjembatani hal hal yang diraih di masa lalu dengan yang hendak dicapai di masa depan. "Connecting the past to the future”, itulah motto yang digunakan di Museum Perkebunan Indonesia di Medan.

"Motto itu juga menjadi misi dari buku biografi saya yang ditulis dengan bantuan Dr. Memed Gunawan", tutur Soedjai kepada smol.id di Jakarta.

Selain ingin berbagi pengalaman, Soedjai juga ingin menggugah perhatian para pemangku kepentingan, termasuk yang masih tergolong generasi muda supaya mereka sadar bahwa sekalipun kita hidup dalam era digital namun di lingkungan industri perkebunan perlu perhatian sendiri.

Khususnya yang berkaitan dengan kegiatan on-farm, praktek-praktek perkebunan terbaik yang diaplikasikan di masa lalu tetap akan menjadi acuan, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang. "Kalau tidak mengacu ke situ maka efeknya akan merugikan, bahkan bisa fatal bagi industri perkebunan kita", ucapnya.

Soedjai memberikan contoh kasus yang relevan ialah apa yang terjadi di lingkungan perkebunan teh di Jawa Barat. Kawasan ini dulu terkenal karena produk-produk tehnya yang berkualitas tinggi.

Namun belakangan ini semakin merosot mutunya disebabkan pemetikan daunnya tidak lagi dengan tangan, tapi dengan mesin gunting yang biasa dipakai untuk memetik teh di Jepang.

Disebutkannya, Kurnadi Sjarif Iskandar, seorang pakar teh yang sejak usia muda sudah berkecimpung dalam dunia pertehan, menyatakan bahwa mesin pemetikan teh yang dipakai di Jepang tidak cocok untuk digunakan di daerah pegunungan Jawa Barat karena hasil petikannya akan kasar bahkan bisa kasar sekali.

Tidak mengherankan kalau harganya di pasar menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga teh yang dihasilkan produsen lain yang tidak menggunakan gunting untuk pemetikan daunnya.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Artikel Terkait

Terkini

6 Kebijakan Ketat PLN, Cegah Penyebaran Covid-19

Minggu, 23 Januari 2022 | 11:44 WIB

Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 18:16 WIB
X