• Selasa, 25 Januari 2022

Begawan Perkebunan Indonesia Soedjai Kartasasmita Menjelang 95 Tahun, Tak Lelah Berkarya untuk Perkebunan

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 13:56 WIB

SMOL.ID - Begawan Perkebunan Indonesia Soedjai Kartasasmita menjelang berusia 95 tahun pada 26 November 2021 ini. Namun usia lanjut tak menyurutkannya untuk terus berkarya bagi dunia perkebunan.

Terakhir, Soedjai selaku Ketua Dewan Direksi Museum Perkebunan Indonesia menjadi pembicara dalam heritage webinar bertajuk "The Golden Era of the Plantation Industry on the East Coast of Sumatra and Their Legacies" pada tanggal 20 Oktober 2021 lalu.

Jika dirunut jejak Soedjai memang sangat panjang di dunia perkebunan Indonesia. Di antaranya menjadi pionir konsep plasma, yang menjadikannya begawan dan tempat belajar bagi para yuniornya di bidang perkebunan.

Baca Juga: Gempa Swarm Ambarawa Bisa Berlangsung Lama, Ahli Gempa BMKG: Cek Kualitas Struktur Bangunan Warga

Ia memelopori pengembangan beberapa komoditi perkebunan serta pengembangan proyek- proyek PIR (Perkebunan Inti Rakyat) di berbagai kawasan Indonesia.

Di antaranya proyek PIR Kelapa Sawit di Sumatera Barat (sekarang propinsi Jambi) yang dipelopori oleh Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas. Proyek itu kemudian menjadi masterpiece Soedjai berkat kerjasama yang baik dengan Pemerintah Jerman.

Kapabilitas Soedjai di bidang perkebunan tentu saja mengundang kepercayaan berbagai pihak kepadanya.

Sebagai contoh, kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 28 Februari 1982 malam di Cendana untuk merehabilitasi 42 pabrik gula dan membangun 16 pabrik gula baru di berbagai lokasi. "Padahal saya bukan lulusan Fakultas Teknik Mesin ITB", tuturnya.

Dalam minggu itu juga dia diajak Prof. Dr. B.J. Habibie untuk bersama Menteri Pertanian, Prof. Sudarsono Hadisaputro, berkunjung ke beberapa pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan menggunakan helikopter dan kemudian menginap di Wisma P. G. Jatiroto.

Setelah itu Soedjai menemui Prof. Widjojo Nitisastro di kantornya di Bappenas untuk menanyakan sumber pendanaan untuk proyek-proyek gula tadi.

Lalu apa jawabnya? “The sky is the limit asal Pak
Soedjai yang melaksanakannya”.

Prof Widjojo rupanya mengenal nama Soedjai dari satu tulisan dalam Wall Street Journal tentang keberhasilan Indonesia sebagai produsen kakao dan nama Soedjai disebut sebagai salah seorang pelopornya.

Ada lagi pengalaman yang tidak mudah dia lupakan ialah apa yang terjadi pada saat menghadap Presiden Soeharto di Istana Negara pada akhir Maret 1983.

Soedjai baru kembali dari Havana, Cuba untuk melaporkan keberhasilan delegasi Indonesia untuk memboyong Kongres ISSCT (International Society of Sugarcane Technologists) berikutnya pada Agustus 1986 ke Jakarta sesuai pesan Kepala Negara.

Baca Juga: Kabar Duka Datang dari Menteri Sekretaris Negara Era SBY, Sudi Silalahi Tutup Usia

"Kami diajak duduk santai bersama Letnan Jenderal Sudarmono dan Menteri Pertanian yang baru Bapak Ir. M. Affandi di atas tangga Istana. Padahal kami semua termasuk Presiden berpakaian jas dan menggunakan dasi", katanya sambil tertawa.

Soedjai kemudian menyampaikan, “Ada kendala yang harus diatasi, Bapak Presiden.”

“Apa itu?” tanya Presiden Soeharto. “Pendanaan, Bapak Presiden.”

“Jangan khawatir, nanti saya bantu asal lewat
Pak Soedjai ya.”

Dengan dukungan Presiden Soeharto, ISSCT lalu berkantor di lantai 2 Manggala Wanabakti dari tahun 1983-1987. Soedjai juga bersyukur Kongres ISSCT tahun 1986 berjalan lancar dihadiri peserta dari puluhan negara sehingga tergolong yang terbaik dalam sejarah organisasi itu.

"Sebagai tanda apresiasi, ISSCT mengangkat saya sebagai Anggota Kehormatan Seumur Hidup organisasi gula internasional itu", tuturnya.

Kini, selain berbagai pertemuan tentang perkebunan, sumbangan yang sangat berarti bagi dunia perkebunan adalah pendirian Museum Perkebunan Indonesia di Medan. Kemudian juga penerbitan buku biografinya "Jejak Planter Indonesia, Mencapai Arena Global" .

Bagi Sodjai, inilah caranya menjembatani hal hal yang diraih di masa lalu dengan yang hendak dicapai di masa depan. "Connecting the past to the future”, itulah motto yang digunakan di Museum Perkebunan Indonesia di Medan.

"Motto itu juga menjadi misi dari buku biografi saya yang ditulis dengan bantuan Dr. Memed Gunawan", tutur Soedjai kepada smol.id di Jakarta.

Selain ingin berbagi pengalaman, Soedjai juga ingin menggugah perhatian para pemangku kepentingan, termasuk yang masih tergolong generasi muda supaya mereka sadar bahwa sekalipun kita hidup dalam era digital namun di lingkungan industri perkebunan perlu perhatian sendiri.

Khususnya yang berkaitan dengan kegiatan on-farm, praktek-praktek perkebunan terbaik yang diaplikasikan di masa lalu tetap akan menjadi acuan, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang. "Kalau tidak mengacu ke situ maka efeknya akan merugikan, bahkan bisa fatal bagi industri perkebunan kita", ucapnya.

Soedjai memberikan contoh kasus yang relevan ialah apa yang terjadi di lingkungan perkebunan teh di Jawa Barat. Kawasan ini dulu terkenal karena produk-produk tehnya yang berkualitas tinggi.

Namun belakangan ini semakin merosot mutunya disebabkan pemetikan daunnya tidak lagi dengan tangan, tapi dengan mesin gunting yang biasa dipakai untuk memetik teh di Jepang.

Disebutkannya, Kurnadi Sjarif Iskandar, seorang pakar teh yang sejak usia muda sudah berkecimpung dalam dunia pertehan, menyatakan bahwa mesin pemetikan teh yang dipakai di Jepang tidak cocok untuk digunakan di daerah pegunungan Jawa Barat karena hasil petikannya akan kasar bahkan bisa kasar sekali.

Tidak mengherankan kalau harganya di pasar menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga teh yang dihasilkan produsen lain yang tidak menggunakan gunting untuk pemetikan daunnya.

"Ketika hal ini disampaikannya dalam satu diskusi ia langsung dibantah dengan nada yang berapi- api oleh seorang pimpinan perkebunan yang hadir sehingga diskusinya pun langsung dihentikan", tutur Soedjai.

Menurut Soedjai, pimpinan perkebunan tadi mungkin beranggapan bahwa karena kita sekarang hidup dalam zaman teknologi disruptif, maka cara memetik daun teh pun harus disesuaikan.

Baca Juga: Pengendara Motor Tewas Ditabrak KA Blora Jaya di Perlintasan Tanpa Palang Pintu Semarang

Caranya dengan menggunakan teknologi gunting model Jepang tadi, yang juga dianggap merupakan solusi untuk mengatasi kesulitan dalam merekrut tenaga wanita pemetik teh di daerah pedesaan.

"Dia tidak sadar atau mungkin tidak tahu bahwa sekarang ada trend yang menunjukkan bahwa konsumen, terutama generasi muda yang berduit, lebih senang minum teh atau kopi yang berkualitas tinggi, yang biasa disebut sebagai premium tea dan premium coffee, sekalipun sebagai konsekuensinya mereka harus lebih banyak menguras kantongnya", tambahnya.

Dengan lain perkataan, jelas Soedjai, teh yang dipetik dengan tangan yang menghasilkan berbagai teh yang bermutu tinggi seperti white tea dan gree tea harus tetap dipertahankan.

"Dan karena harga jualnya tinggi, tidak ada salahnya kalau diberikan premi kepada para pemetik teh untuk meningkatkan penghasilannya sehingga mereka tidak tergoda untuk mencari pekerjaan di tempat lain", katanya.***

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Salman Al Farisi

Artikel Terkait

Terkini

Resmi! Pemilu Ditetapkan 14 Februari 2024

Senin, 24 Januari 2022 | 16:25 WIB

6 Kebijakan Ketat PLN, Cegah Penyebaran Covid-19

Minggu, 23 Januari 2022 | 11:44 WIB
X