• Rabu, 19 Januari 2022

Gus Yahya: Posisi Indonesia Sangat Strategis Wujudkan Stabilitas Dunia

- Rabu, 10 November 2021 | 21:21 WIB
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf bincang-bincang dengan Wakil Rektor II Universitas Pertahanan (Unhan) Mayjen TNI Lasmono, Warek IV Ir Ir Tristan Sumardjono, Warek III Laksda TNI Dr Ir Suhirwan, usai memberi kuliah umum bertema ‘Kontribusi Perjuangan Pahlawan Santri Ditinjau dari Perspektif Sosio-Cultural dan Kontekstualisasi Semangat Persatuan dan Rela Berkorban di Era Digital’ di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/11).
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf bincang-bincang dengan Wakil Rektor II Universitas Pertahanan (Unhan) Mayjen TNI Lasmono, Warek IV Ir Ir Tristan Sumardjono, Warek III Laksda TNI Dr Ir Suhirwan, usai memberi kuliah umum bertema ‘Kontribusi Perjuangan Pahlawan Santri Ditinjau dari Perspektif Sosio-Cultural dan Kontekstualisasi Semangat Persatuan dan Rela Berkorban di Era Digital’ di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/11).


SMOL.ID - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam upaya membentuk stabilitas dan tatanan dunia ke depan. Potensi besar ini sudah saatnya disadari dan dikelola dengan baik agar Indonesia bisa semakin kuat di mata dunia internasional.
 
Hal tersebut disampaikan Gus Yahya, sapaan Katib Aam PBNU itu saat memberi kuliah umum bertema ‘Kontribusi Perjuangan Pahlawan Santri Ditinjau dari Perspektif Sosio-Cultural dan Kontekstualisasi Semangat Persatuan dan Rela Berkorban di Era Digital’ di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/11). Menurut Gus Yahya, di tengah memanasnya hubungan antarsejumlah negara di kawasan saat ini, tatanan dunia sejatinya tengah menuju titik keseimbangan (equilibrium) baru.
 
“Karena letaknya yang sangat strategis dalam menjaga stabilitas, maka dunia internasional menginginkan Indonesia menjadi negara yang kuat, bukan hanya di regional tapi juga di kawasan Indo-Pasifik,” kata kandidat Ketua Umum PBNU itu.

Baca Juga: Update Covid-19 di Indonesia per Rabu 10 November 2021: Angka Positf Semakin menurun
 
Dalam kaitan itu, maka dunia internasional pun sangat berkepentingan dengan Indonesia agar menjadi negara kuat dan stabil, serta jauh dari gejolak. Tatanan dunia saat ini, ujar Gus Yahya, belum bisa disebut stabil apalagi kokoh. Indikasinya gejolak secara sporadis masih mudah terjadi di sejumlah negara.  Pemicunya pun susah untuk dijelaskan. Gejolak-gejolak itu akan terus terjadi karena tatanan dunia saat ini memang baru dibangun.
 
“Hingga sejumlah bangsa mulai muak dengan penjajahan dalam segala bentuknya. Mereka mulai berani berteriak, melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Perlawanan itu perlahan tapi pasti muncul di sejumlah negara jajahan. Termasuk bangsa Indonesia kala akhirnya merdeka pada 1945 lalu," kata mantan anggota Wantimpres itu.

Baca Juga: Peringati Hari Pahlawan, Jokowi Berikan Gelar Pahlawan Kepada 4 Orang ini
 
Bahkan para pendiri bangsa tidak hanya menginginkan Indonesia merdeka. Tetapi lebih dari itu adalah seluruh bangsa di dunia harus merdeka dari kolonialisme dan imperialisme. Cita dan wawasan internasional soal kemerdekaan dan kedaulatan ini, jelas Gus Yahya, antara lain disuarakan oleh para ulama dan santri pada era itu.
 
“Berpijak keberhasilan Indonesia lepas dari cengkeraman penjajah, bangsa-bangsa lain juga melakukan perlawanan untuk merebut kedaulatannya. Peran strategis inilah perlu terus dikelola untuk menuju peradaban dan tatanan dunia menjadi lebih baik,” terangnya. (B13-)

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BNN Sita 218, 46 Kg Sabu dan Tangkap 11 Tersangka

Senin, 17 Januari 2022 | 14:00 WIB

Hakim MK: Tidak Ada Celah Menghindar Putusan Hukum MK

Senin, 17 Januari 2022 | 13:16 WIB
X