• Rabu, 30 November 2022

Guntur Beberkan Indahnya Seni Membatik

- Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:11 WIB
Batik karya Guntur yang dipamerkan di Studio Kutunggu di Pojok Ngasem UWM. (Foto: Smol.id/dok)
Batik karya Guntur yang dipamerkan di Studio Kutunggu di Pojok Ngasem UWM. (Foto: Smol.id/dok)

SMOL.ID - Sejak beberapa tahun terakhir ini, perkembangan batik maju semakin pesat. Sehingga wajar bila batik sekarang makin mendapat tempat dihati masyarakat nasional maupun internasional.

Perkembangan batik tidak hanya di kota, tapi sudah mulai merambah ke daerah-daerah. Seperti yang terjadi di Gunungkidul yang diprakarsai Guntur bersama istrinya Dwi Lestari.

Pasangan suami istri ini dengan tekun dan sabar, akhirnya batik dari bukit seribu ini makin mendapat tempat di hati masyarakat. Karena karya yang mereka hasilkan memang apik, anggun dan indah dipandang mata.

Pasangan suami istri ini, tak henti-hentinya mengajari proses membatik dari awal hingga membuat motif baru pada masing-masing desa binaannya hingga batik di dari daerah terpencil itu kini makin dikenal di masyarakat luas.

Selama ini publik mengenal motif khas batik Gunungkidul, adalah batik Walang. Namun sekarang masing-masing desa sudah punya warna dan nama sendiri sesuai sejarah desanya.

Karya-karya indah itu bisa dilihat pada Pameran Tunggal Satu Karya di Studio Kutunggu di Pojok Ngasem Universitas Widja Mataram (UWM) Yogyakarta yang mempresentasikan karya batik.

Pameran tunggal yang digelar dari tanggal 2 hingga 13 Oktober 2022 tersebut, sekaligus untuk memperingati Hari Batik yang jatuh pada Minggu (2/10) lalu. Sehingga tak berlebihan bila Stodio Kutunggu di Pojok Ngasem menggelar pemeran batik.

Menurut Puji Qomariyah, penanggung jawab Program Kutunggu di Pojok Ngasem UWM, kepada Smol.id, Selasa (4/10) menyebutkan, setiap desa Guntur membuatkan motif yang menjadi penanda desa tersebut berdasar sejarah, cerita yang berkembang, ataupun yang lain yang nantinya bisa menjadi motif batik khas desa tersebut.

Diantaranya, motif batik Bedoyo, motif batik Babad Alas Nongko Doyong, motif batik Cangkring, motif batik Hargosari, motif batik Jeruk Wudel, motif batik Kedung Keris, mootif batik Krambil Sawit, motif batik Selogupito Megarkeri, motif batik Sinuwun dan banyak lagi lainnya.

Selain ada kebaruan tanpa meninggalkan akarnya, aktivitas ini juga memiliki potensi ekonomi bagi warga. ''Semangat ini yang kita tangkap dengan memberikan ruang presentasi bagi seniman yang bergiat mengembangkan batik,'' ujar Puji yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor 3 UWM.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Artikel Terkait

Terkini

Tata Kelola Kelapa Sawit, Perlu Dukungan Pemerintah

Selasa, 29 November 2022 | 18:45 WIB

UMP DIY 2023 Naik 7,65 Persen

Senin, 28 November 2022 | 19:20 WIB
X