Banyak Konten Mempersempit Ruang Konten Lokal

- Rabu, 1 Februari 2023 | 19:41 WIB
Ketua KPI Pusat Agung Suprio dan para Nara sumber saat bicara di Forum Group Discussion (FGD) di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Foto : Smol.id/Rangga Permana)
Ketua KPI Pusat Agung Suprio dan para Nara sumber saat bicara di Forum Group Discussion (FGD) di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Foto : Smol.id/Rangga Permana)


SMOL.ID - Pindahnya TV Analog ke TV Digital atau diistilahkan dengan Analog Switch Off (ASO) beberapa waktu lalu, membuka luas siaran televisi di Indonesia.

Saat ini, konten yang bisa dinikmati oleh masyarakat semakin banyak. Namun, terbukanya akses dan banyaknya konten yang bisa ditonton oleh masyarakat semakin mempersempit ruang bagi konten lokal.

Tantangan ini, menurut Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, sebaiknya perlu diansisipasi, mengingat konten lokal menjadi salah satu penguatan kearifan lokal.

Berkaitan dengan itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mengadakan Forum Group Discussion (FGD).

FGD dengan tema“Perkembangan Televisi Digital dan Penguatan Konten Lokal,” digelar di Interactive Center (IC) lantai 1 FISHUM UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu, 1 Februari 2023.

Nara sumber dalam acara itu, adalah KPI Pusat, Agung Suprio, Dekan FISHUM, Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. Komisaris KPI Pusat, Aswar Hasan.

Ketua KPID DIY, Dewi Nurhasanah, S.Th.I., M.A, Sekretaris Kompas TV, Deddy Risnanto, dan Dr. Bono Setyo, M.Si. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISHUM UIN Sunan Kalijaga.

Menurut Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, Ketua KPI Pusat menjelaskan, bahwa acara ini sebagai respon dari perkembangan televisi.

Untuk itu, acara ini sengaja mengambil tema tentang perkembangan televisi digital dan penguatan konten lokal. UU CIPTAKER mengamanahkan, agar Indonesia beralih dari sistem penyiaran analog ke digital.

Oleh karena itu, mulai 2 November 2022 hingga sekarang beberapa daerah sudah beralih dari analog ke digita. Menurut dia, siaran televisi yang sudah bermigrasi ke digital, lebih jernih dan beragam.

Di Jakarta, misalnya, dari 18 siaran TV, setelah pindah ke digital menjadi 48 siaran TV. Begitu juga dengan kota-kota lain. Untuk itu, pihaknya berharap, kalau warga Singapura yang nonton tv digital di Singapura, mereka juga bisa menikmati siaran tv dari Indonesia.

Ditengah banyaknya revisi, timbul pertanyaan, Dimanakah tempat konten lokal? Karena di Jakarta, misalnya, sebagian besar isinya bukan konten lokal.

Oleh karena itu, KPI dalam hal ini berupaya mengatasi masalah ini dengan cara melalui kebijakan. Dimana setiap stasiun televisi, wajib mengisi konten lokal minimal 10 persen dari total kontennya.

Dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga, Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. menyambut baik acara ini, dan mengapresiasi para peserta yang sudah bersedia hadir dalam kegiatan ini.

Untuk itu, akademisi perlu mengambil peran dalam FGD kali ini. Mengingat, siaran televisi menjadi salah satu sumber informasi yang dikonsumsi masyarakat.

Halaman:

Editor: Salman Al Farisi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ndarboy dan Shaggydog Ajak Joget Tetangga

Sabtu, 27 Mei 2023 | 11:10 WIB
X